Glory Hunter Salah Arah
Tony Adams: “Play for the name on the front of the shirt and they’ll remember the name on the back.”
English Premier League akan dimulai akhir pekan ini. Fans sepakbola
ditengarai akan kembali ramai berkicau setelah sekitar 2 bulan lebih
berhibernasi. Saling sindir, saling hina, twit war menjadi ritual
mingguan fans sepakbola yang kebetulan aktif di twitter. Persaingan
sengit tidak hanya dirasakan tim-tim klub sepakbola tapi juga antar
pendukung. Baik yang di Inggris sana maupun fans klub Inggris yang
tinggal ribuan mil dari klub kesayangannya. English Premier League (EPL)
sudah bukan milik warga Inggris semata. Pemain asing, pelatih asing dan
sekarang fans asing merasa, dan secara aktual memang telah menjadi
bagian dari EPL.
Bagi yang mengikuti twit-twit saya di twitter, mungkin sudah tahu
kalau “I’m a Gooner” (sebutan untuk fans Arsenal, the greatest club the
world has ever seen). Sebagai seorang Gooner, otomatis twit-twit tentang
sepakbolanya tak jauh-jauh dari membanggakan Arsenal dan
pemain-pemainnya. Memuja Wenger dan sepakbola menyerang cantiknya. Dan
sesekali mencibir pencapaian tim lain yang walaupun sudah menghabiskan
uang lebih banyak dari Arsenal, tetap tidak mampu berprestasi (Liverpool
contohnya). Atau mencibir tim yang menjadi juara dengan membeli trofi.
Apa yang dibanggakan dari klub yang memenangkan kompetisi dengan cara
membayar jauh lebih banyak dari semua lawannya dan menjalankan klub
dengan kondisi defisit keuangan setiap musimnya? Ini menjadi twit-twit
wajib pendukung Arsenal. Walaupun tanpa trofi dalam 7 tahun terakhir
ini, Arsenal bagi kami tetaplah “the greatest club the world has ever
seen”. Hal ini tentunya tidak dapat dimengerti pendukung klub lainnya.
Kami maklum.
Pendukung tim yang kebetulan juara di satu musim biasanya akan
membangga-banggakan pencapaian timnya. Membanggakan trofinya sambil
“memamerkan” ke pendukung tim lain yang sedang kering trofi, fans
Arsenal misalnya. Trofi imajiner pun dipamerkan mereka sambil berujar
“wah kasihan Arsenal udah 7 tahun tanpa trofi, ga pindah klub aja elo?”
Pertanyaan bodoh seperti ini biasanya memancing reaksi stempel “glory
hunter” terhadap mereka. “Glory hunter” menjadi istilah yang termasuk
sering saya gunakan sebagai reaksi terhadap pendukung-pendukung tim
juara yang sedang memamerkan prestasi timnya ke fans klub lain.
Glory hunter untuk fans sepakbola itu sesungguhnya adalah istilah
yang ter-peyorasi, sudah mengalami pergeseran makna yang menjadi lebih
jelek, lebih negatif. Lucunya, sebagian fans klub juara karena tidak
memahami istilah glory hunter berusaha menggunakan label yang sama
tersebut terhadap fans-fans klub lainnya. Reaksi yang umum lahir dari
mereka: “kalo pemain ga glory hunter, mending ga usah main bola,” tanpa
memahami perbedaan besar pemain glory hunter dan fans glory hunter. Atau
begini: “elo dukung Arsenal karena dulu mereka juara juga kan?” yang
menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak memahami istilah glory hunter
tersebut. Mereka tidak mau mengakui adanya jalan spiritual lain dari
seorang fans sepakbola yang mendukung sebuah tim, yang tidak selalu
harus soal trofi. Maka istilah Glory Hunter pun mengalami “salah arah”
di antara fans-fans sepakbola, bahkan mungkin sudah tersesat. Kini
saatnya untuk meluruskannya, sebelum musim baru dimulai dan fans-fans
sepakbola lebih jauh menyalahgunakan istilah ini. Saya berusaha
mengemban tugas mulia untuk meluruskan istilah ini… *uhuk*
Glory Hunter diterjemahkan secara harafiah sebagai pemburu kejayaan.
Kejayaan identik dengan trofi untuk sebuah kompetisi sepakbola. Maka
Glory Hunter bisa juga disebut pemburu trofi. Ini makna dasarnya yang
dapat kita sepakati. Nah sekarang apakah semua klub sepakbola mesti
menjadi Glory Hunter? Tentu semuanya berambisi untuk menjadi juara,
mendapatkan trofi. Namun dari 20 klub yang berlaga di EPL setiap musim,
hanya ada satu yang bisa menjadi juara EPL. Dan sejak Premier League
bergulir di pertengahan 90-an, hanya 5 klub yang pernah menjadi juara
(MU, Blackburn Rovers, Arsenal, Chelsea dan Manchester City). Lima belas
dan lebih klub lainnya (termasuk yang terdegradasi) hanya bisa
berambisi tanpa pernah merealisasikan ambisinya. Ekspektasi pun
diturunkan, masing-masing klub akan memiliki ekspektasi internal. Mulai
dari asal bertahan di EPL, lebih baik posisinya di klasemen daripada
musim sebelumnya, mengincar papan tengah, mengincar posisi 4 besar,
sampai yang benar-benar mengincar trofi juara.
Demikian juga pemain sepakbola. Tentunya mereka semua bermain bola
untuk menang, ingin menjadi juara. Namun pada realitanya masing-masing
pemain bola memiliki ekspektasi internal yang berbeda-beda sesuai
kemampuan dan tempat bermainnya. Ada yang asal dapat kontrak yang lebih
baik daripada sebelumnya, ada yang asal bisa bermain di EPL, ada yang
ingin masuk timnas, dan tentu ada yang ingin menjadi juara. Mereka
semuanya glory hunter, tapi glory di sini tidak selalu identik dengan
trofi. Glory bisa juga berupa pemujaan dari fans karena mereka adalah
pemain terbaik di klubnya, walaupun klubnya konsisten pengisi papan
bawah klasemen. Glory bisa juga berarti kontrak baru yang mencapai nilai
jutaan poundsterling per tahun, yang menempatkan mereka sebagai salah
satu orang terkaya di daerahnya. Dalam setiap pertandingan tentu semua
pemain ingin menang. Namun kekalahan bukanlah akhir kehidupan. Menang
dan kalah tidak ditentukan sendiri, ada 22 pemain sepakbola di lapangan
dan kontak antara 22 pemain tersebut dengan 1 bola itu yang menentukan
hasil pertandingan.
Nah bagaimana dengan fans sepakbola? Fans sepakbola, walaupun sering
disebut sebagai pemain ke-12 dalam satu pertandingan pada nyatanya
sangat minim kontribusinya dalam hasil akhir sebuah pertandingan. Fans
sepakbola bisa berteriak sampai suaranya habis dan timnya tetap kalah.
Fans sepakbola tidak ikut bertanding, pada nyatanya ia hanya menonton
pertandingan. Ia mendukung agar pemain-pemain klubnya bisa extra
semangatnya. Namun apabila kemampuannya memang di bawah kemampuan lawan
yang kondisinya prima, kekalahan tidak terelakkan. Fans sepakbola tidak
memiliki keterlibatan aktif dalam menentukan hasil akhir pertandingan.
Seorang wasit bahkan lebih “aktif” daripada fans sepakbola dalam hal ini
(terutama wasit di liga yang diatur hasilnya), walaupun ia cukup meniup
peluitnya tanpa harus berteriak.
Fans sepakbola tentu ingin klubnya mencapai hasil maksimal, yaitu
juara. Namun ekspektasi fans juga berbeda-beda. Fans Blackburn yang
pernah juara EPL misalnya, sekarang hanya akan berharap klubnya bisa
sesegera mungkin promosi ke EPL. Fans Wigan akan berharap klubnya tidak
terdegradasi tahun depan. Fans Liverpool yang mendominasi Liga Inggris
tahun 80-an sekarang hanya berharap klubnya bisa masuk 4 besar. Fans
City tentu berharap akan tetap jadi juara setelah 44 tahun lebih tidak
pernah juara.
Ekspektasi yang berbeda-beda ini terjadi karena fans sepakbola yang waras bisa menyatukan keinginan dengan realita. Dan
untuk fans sepakbola yang waras ini, mereka akan terus mendukung
timnya, walaupun tidak menjadi juara. Fans sepakbola yang waras memahami
bahwa bisa tidaknya timnya menjadi juara tergantung pada kualitas dan
kinerja manajer dan pemain sepakbola dan dibandingkan dengan tim lawan.
Fans hanya bisa mendukung secara finansial (beli merchandise, tiket
pertandingan) dan secara moral (teriakan di lapangan, doa buat yang
nonton di tv). Fans juga bisa menuntut untuk mengganti pelatih yang
tidak berhasil, atau menjual pemain yang jelek atau membeli pemain yang
bagus. Walaupun keputusan final tetap ada di tangan manajemen klub.
Fans sepakbola yang waras ekspektasinya tidak melulu soal trofi
juara, mereka melihat kondisi tim dari tahun ke tahun. Fans sepakbola
yang waras ini bukan Glory Hunter. Maka jangan heran masih ada yang
menjadi fans Liverpool walaupun sudah 20 tahun lebih tidak pernah juara
liga Inggris misalnya.
Lalu fans seperti apa yang kita sebut Glory Hunter itu?
Karena fans sepakbola tidak punya keterlibatan aktif dalam menentukan
hasil pertandingan, maka menjadi lucu sebenarnya kalau fans sepakbola
punya ambisi menjadi juara sebagaimana pemain sepakbola, pelatih,
ataupun klub bola itu sendiri. Yang menjadi juara dan mendapatkan medali
adalah pemain sepakbola dan pelatihnya. Klub bola menyimpan trofi
juaranya dan fans sepakbola hanya bisa ikut merasakan kebanggaan
tersebut. Glory bagi fans bersifat imajiner, adalah ekstensi dari
khayalan relasi fans-klub sepakbola. Glory itu bisa untuk fans karena
mereka bisa ikut menikmati, tapi bukan dari fans karena bukan mereka
yang berjuang untuk mendapatkannya. Fans memang dibutuhkan agar klub
sepakbola tetap bisa berjalan, namun glory yang didapatkan klub
sepakbola bukanlah hasil perjuangan fans sepakbola. Di sini menariknya.
Nah karena fans sepakbola tidak bisa mengupayakan glory tapi bisa menikmati glory, maka glory hunter adalah fans sepakbola yang berupaya untuk terus dapat menikmati glory setiap musimnya.
Bagaimana caranya? Tidak lain adalah dengan cara berpindah klub yang
didukung setiap musimnya. Dukung klub yang pada musim ini kira-kira kans
juaranya paling besar dan bisa memberikan glory untuk fans. Jadi fans
glory hunter ini bisa berganti klub setiap musim. Konyol bukan? Namun
fans seperti ini benar-benar ada. Musim kemarin dukung United, musim ini
dukung City karena Man City disinyalir lebih berpeluang juara. Dulu
dukung Barca, sekarang dukung Madrid. Fans seperti inilah yang disebut
glory hunter.
Salah Arah Glory Hunter sering dialami fans Manchester United.
Mungkin karena dulunya mereka mendukung MU karena sering juara, dan
mungkin juga karena lagu kebangsaannya berjudul “Glory Glory Man
United”, fans-fans MU ini paling sensitif kalau saya sedang bicara soal
glory hunter. Mereka merasa dicap sebagai glory hunter, padahal tidak
perlu begitu kalau mereka adalah fans sejati MU yang tidak akan pindah
ke klub lain walaupun sedang minim prestasi. Namun kelakuan sebagian
fans MU yang sangat memuja trofi dan sering menyindir fans klub lain
yang lebih minim trofinya mungkin secara perlahan bisa mengubah mereka
menjadi glory hunter sejati. Apa yang terjadi misalnya bila MU 5 tahun
tidak menjadi juara? Apakah sebagian fans mereka akan berpindah,
menyebrang ke tetangga, Man City misalnya? Mungkin iya. Maka untuk yang
tidak tahan mendukung tim tanpa glory, merekalah calon glory hunter
sejati.
Glory hunter yang berpindah-pindah klub hanya demi menikmati kejayaan
imajiner itu hidupnya pasti menyedihkan. Ia mungkin bisa berdalih ia
adalah seorang pemenang dalam kehidupan. Dan berargumen pemenang hanya
berasosiasi dengan pemenang. Dugaan saya ia mungkin jarang “menang”
dalam kehidupan sejatinya sehingga mencari kejayaan imajiner dari
mendukung sebuah klub sepakbola lewat menonton dan berteriak di depan
televisi. Ia tidak dapat merasakan suka-dukanya mendukung sebuah klub
sepakbola, tanpa trofi atau dengan trofi. Ia tidak dapat merasakan
ikatan emosional fans dan klub bola yang terkadang bisa lebih kuat
daripada pasangan suami-istri. Ia tidak dapat merasakan cinta terhadap
klub bolanya, karena cinta tidak selalu soal kemenangan. Justru di
saat-saat tersulitlah cinta itu tumbuh dan diuji.
Nah setelah penjelasan panjang lebar di atas, silakan Anda simpulkan sendiri. Apakah Anda seorang Glory Hunter?