Masters Of Old Trafford
Tepat di depan Stadion
Old Trafford berdiri menjulang sosok patung perunggu. Ada nama yang tertulis di
bawah kaki patung tersebut, Sir Matt Busby. Pria asal Skotlandia itu mendapat
tempat khusus di hati setiap insan Manchester United dan masyarakat sepakbola
Inggris. Sir Matt jadi legenda.
Sir Matt ibarat tokoh
renaissance yang berhasil menempatkan Manchester United sebagai klub papan atas
di Eropa berkat kesuksesan menjadi juara Piala Champion 1968. Ia pendiri
fondasi tradisi juara serta kebesaran United dan kini diteruskan oleh Sir Alex
Ferguson.
Berkat racikan dan
kesabarannya, United memiliki sederet pemain bertalenta tinggi yang dijuluki
The Busby Babes. Bersama The Busby Babes, Sir Matt mencetak prestasi di level
domestik dan Eropa.
Nah, sepak terjang Sir
Matt direkam runtut dalam buku Masters of Old Trafford, From Busby to Ferguson,
The Inside Story of the Great Managers. Sang penulis buku, Peter Keeling,
menempatkan Sir Matt di urutan pertama ulasannya, suatu pilihan yang tepat.
Secara gamblang, Keeling mengungkapkan Sir Matt sebagai manajer yang punya
pendekatan berbeda dibandingkan dengan para manajer lain di eranya. Perbedaan
ini yang membuat Sir Matt meraih sukses di Old Trafford.
GAYA FAKTUAL
Mantan Chief Executive
Liverpool, Peter Robinson, selalu menggambarkan Bill Shankly sebagai tokoh yang
mengakhiri era dari apa ia sebut waistcoat managers, yang memimpin dengan
setelan jas formal dengan kuntum bunga di saku serta menghabiskan waktu di
kantor lebih banyak dari siapa pun di klub.
Seorang eks manajer
terkemuka Portsmouth tercatat karena menggunakan spats (semacam kaus kaki
pendek yang menutupi engkel dan sebagian sepatu) dan itu terjadi hingga akhir
tahun lima puluhan, bahkan sampai awal era 1960-an, para manajer secara umum
adalah orang di belakang meja.
Namun, bahkan di awal,
tepatnya 1945, saat Matt Busby menjadi roockie manajer di Old Trafford, dia
telah menampilkan gaya manajer yang faktual hingga kini. Ia menciptakan sebuah
gema kegairahan di antara para pemainnya dan itu dinilai sebagai sebuah
fenomena baru. Bos bergabung dalam permainan latihan, memperlihatkan pada
mereka dengan contoh apa yang dia inginkan untuk dilakukan para pemain.
Kebanyakan manajer kala
itu lebih suka berada di kantornya sementara para pemain sibuk berlatih di
lapangan. Scott Duncan, manajer United paling lama di era 1930-an, adalah
seorang pesolek rapi yang tak akan pernah mimpi mengotori sepatu kulitnya atau
sepatu bot mengkilapnya yang dilengkapi spats dengan menyambangi lapangan latihan.
Sikap Matt dapat
diringkas dalam kata-kata bijaknya sepakbola yang Anda dengar hingga kini di
antara para manajer: "Karier manajer adalah kehidupan yang hebat, tapi
manajer hanya seorang pemain cadangan malang dalam sepakbola."
Matt selalu ingin
terlibat di lapangan selama mungkin dan, bersama asistennya yang setia Jimmy
Murphy. Antusiasme dan perhatian Matt pada detail, misalnya ia suka berbicara
secara pribadi pada para pemainnya, memperlihatkan apa ia ingin mereka lakukan,
dan segera pemain United berada dalam trek prestasi. Namun, selama tiga tahun
berturut-turut – faktanya empat tahun lebih – United secara menyakitkan hanya
berada di posisi runner-up dalam berbagai kejuaraan di Inggris.
Tim mulai berkembang,
Matt mentransformasi karier Johnny Aston dan Johnny Carey dengan memindahkannya
dari gelandang ke lini belakang. Hal itu memberi awal yang bagus bagi Red
Devils, saat di musim 1946/47, mereka nyaris meraih gelar dan hanya terpaut satu
poin dari sang juara Liverpool. Musim berikutnya, giliran Arsenal mengandaskan
skuad Matt ke peringkat kedua. Portsmouth mengikuti, mengalahkan United di
Championship 1948/49. Dan penantian Matt berlanjut saat United kembali menjadi
runner up di musim 1950/51, kali ini mereka di belakang Tottenham Hotspur.
Akhirnya, di musim
1951/52, menjadi titik balik bagi United. Trofi liga bisa diboyong ke Old
Trafford. Seperti biasa tim Matt Busby, memenangi gelar juara dengan gaya.
Dalam partai pamungkas, para penonton di Old Trafford menyaksikan skuad Red
Devils melindas rival terdekat mereka, Arsenal, 6-1. United telah memimpin
perburuan gelar juara sejak Februari, sebelum membantai Arsenal. Dan di akhir
keputusasannya, Londoners kehilangan dua gelar, di liga serta Piala FA setelah
striker Newcastle mencetak satu-satunya gol dalam partai final di Wembley.
Musim itu juga ditandai
sebagai debut dua dari Babes pertama, Roger Byrne – yang mengambilalih posisi
skipper dari Carey – dan Jackie Blanchflower. Lantas dalam waktu singkat, tiga
tahun, Byrne meraih caps 12 kali bersama timnas Inggris sebelum tragedi Munchen
merenggutnya. Saat berusia 21 tahun, Byrne menjadi starter di dalam tim.
Musim itu pun menandai
akhir dari era Jack Crompton. Kiper United di final Piala FA 1948 itu memberi
tempatnya bagi Reg Allen, meski dia tetap menjadi pemain hingga akhir 1950-an
dan setelah itu bergabung dalam staf pelatih.
Faktanya gelar pertama
Sir Matt diraih dalam masa transisi dari tim utama tahun 1945 dan skuad the
Busby Babes. Skuad the Babes muncul bersamaan dengan beberapa perekrutan
pintar, semua itu berkat perjalanan tak kenal lelah ke seluruh Inggris dari
Matt, Jimmy Murphy, Joe Amstrong, serta kumpulan pemandu bakat.
So dewasa ini jika
seorang pemain seolah-olah diletakkan di bawah mikroskop, Anda akan dengar
analisa kecepatan, keberanian, karisma, dan karakternya, semua faktor itu
adalah produk akhir dari seorang pesepakbola yang baik. Namun jarang disebut
faktor dasar yang digunakan oleh semua pemandu bakat, dapatkah dia bermain
bola? Faktor dasar ini menjadi starting point bagi Matt Busby dan para pemandu
bakatnya.
Matt biasa tertawa
manakala mengenang saat dia memberi 'suap' pada seorang pemandu bakat dari klub
lain. Kala itu di Oakwell ketika dia memberikan perak pada seorang talent scout
dari klub Barnsley demi memuluskan perekrutan Tommy Taylor yang dibanderoli
transfer senilai 30 ribu pound. Matt menuliskan cek sebesar 29,999 pound bagi
striker berusia 21 tahun itu yang telah bermain dalam 44 pertandingan bagi tim Divisi
Dua, Barnsley.
Sekitar 21 klub
mengincar bintang muda asal Yorkshire tersebut dan kebanyakan dari mereka sudah
mengajukan penawaran. Namun Tommy telah menetapkan hatinya untuk bergabung di
old Trafford dan Matt mengakui: "Inilah salah satu perekrutan pemain
terbaik yang pernah saya lakukan."
Tommy mungkin menjadi
penyerang terbesar yang pernah dimiliki Red Devils, perpaduan antara Mark
Hughes dan Ruud van Nistelrooy. Dan dalam waktu singkat, lima tahun, sebelum
kecelakaan pesawat di Munchen menewaskannya, Tommy mencetak 112 gol dalam 166
pertandingan di liga bersama skuad the Busby Babes.
Manchester United tak
kehabisan para legenda, dan mahkota juara Divisi Satu dimenangi oleh skuad the
Babes yang mulai mekar di musim 1955/56 dan 1956/57. Sepakbola inovatif telah
dihasilkan, walau begitu mereka masih tidak tak terkalahkan: dalam final Piala
FA 1957 mereka kalah 1-2 lewat gol yang dilesakkan pemain Aston Villa, Peter
McParland. Gelandang Villa tersebut juga menjadi tokoh jahat dalam pertandingan
ini setelah dia secara ceroboh menghajar kiper United Ray Wood. Akibat
cederanya Wood mesti menjalani operasi karena retak tulang pipi.
Ray telah bermain lebih
dari 450 pertandingan di liga dan piala bagi United. Insiden retak tulang pipi
itu mengakhiri kariernya di lapangan hijau, dan menyaksikan mekarnya salah satu
kiper paling berani Manchester United, Harry Gregg.
Harry adalah salah satu
pemain yang selamat dari tragedi Munchen dan ditunjuk sebagai kiper timnas
Inggris di Piala Dunia 1958 di Swedia. Sama seperti Peter Schmeichel, kiper
United lainnya yang menjadi pahlawan di Piala Dunia dan Piala Eropa dan
kemudian dikenal sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia.
Secara menyedihkan line
up pecundang di final Piala FA 1957 itu terdiri dari: Wood; Foulkes, Byrne,
Colman, Blanchflower, Berry, Whelan, Tommy, Taylor, Charlton, dan Pegg.
Lantas 12 bulan kemudian
setelah pulih benar dari cedera yang dialaminya di Munchen, Matt Busby
menyambangi kamar ganti Bolton Wanderers di Wembley serta memberi selamat pada
manajer Bill Ridding dan skuadnya berkat kemenangan mereka 2-0 atas tim Busby
Babes yang entah bagaimana mampu mencapai final serta mesti bertanding dengan
berat hati, dan dihantui kenangan buruk atas tragedi tiga bulan sebelumnya.
PERUBAHAN
Dalam 12 bulan susunan
line up United ketika final di Wembley telah berubah: Gregg, Foulkes, Greaves,
Goodwin, Cope, Crowther, Dawson, Ernie Taylor, Bobby Charlton, Viollet,
Webster. Cuma Charlton dan Bill Foulkes yang mampu kembali Wembley.
Satu dari pendatang baru
tersebut adalah Ian Greaves, kemudian menjadi manajer terkemuka bersama Bolton
Wanderers. Sama dengan beberapa pemain United lainnya di partai final, dia
seperti tak punya harapan saat dimasukkan dalam tim utama tatkala Red Devils
memulai kampanye di babak ketiga Piala FA di bulan Januari. Semula Ian adalah
pemain cadangan, termasuk Stan Crowther (seorang cadangan anyar yang ditransfer
dari Villa dan tak bisa bermain saat dirinya dikontrak, tapi FA lantas
memberikan dispensasi).
Bek Ian Greaves mengaku:
"Saya tak kenal siapa orang yang berada di kamar ganti kami saat itu.
Segalanya kabur bagi saya, dan saya tak bisa ingat apakah Sir Matt datang ke
kamar ganti sebelum pertandingan atau tidak."
"Namun saya dapat
ingat Jimmy Murphy, yang memimpin tim, datang ke ruangan, sebagaimana
kebiasaannya, berbicara secara pribadi pada tiap pemain serta mengingatkan
mereka apa yang jadi prioritas dalam permainan. Kami telah berduka cita karena
rekan-rekan kami dan merasa ngeri atas horor tragedi Munchen dalam waktu lama:
kini kami berusaha mengeluarkan kesan itu dari otak kami, serta bermain bola di
Wembley. Kami mesti meneruskan hidup kami," cetus Ian.
Sayang tak ada akhir
bahagia. Dua gol dari Nat Lofthouse mencampakkan United ke kekalahan mereka
yang kedua di Wembley dalam dua tahun.
Bek Bolton Roy Hartle -
kini masih berkerja di Stadion Reebok sebagai host hospitality suite, dan juga
ketua Asosiasi Mantan Pemain Bolton Wanderers – mengenang secara hidup
bagaimana Sir Matt Busby datang ke kamar ganti untuk memuji Bolton atas
penampilan gemilang mereka.
"Hal pertama yang
terlintas di benak saya, saat melangkah melewati pintu terlihat betapa sakitnya
dia. Ia berjuang mengitari ruangan dan menyalami setiap pemain. Semangat dan
keramahtamahannya membuat saya begitu kecil dalam kemenangan saya."
"Saya berpikir Sir
Matt pasti menghabiskan lebih banyak energi, dan lebih banyak kekuatan mental
serta fisik, untuk datang ke ruang ganti kami dibandingkan apa yang kami telah
lakukan sepanjang 90 menit. Keteguhan hatinya meninggalkan sebuah kenangan
indah sepanjang karier sepakbola saya," papar Roy.
Walau dokter memintanya
beristirahat agar bisa mengembalikan lagi kebugaran secara layak, Matt tetap
keras kepala dengan bekerja keras meski belum pulih benar. Dia terkesan pada
kiper Bolton Wanderers Tommy Banks, kiper timnas Inggris yang berpengalaman. Di
mata Matt, Tommy adalah sosok yang tepat untuk mengawal gawang Red Devils
selama tiga tahun ke depan seraya menunggu kiper muda, Tony Dunne, matang.
Minggu berikutnya Tommy
menerima sepucuk surat dari Paddy McGrath, sohib kental Matt, pemilik sebuah
nightclub dan orang penting dalam kehidupan sosial di Manchester kala itu. Matt
tidak bermaksud membuat Manchester United melanggar aturan dengan melakukan
pendekatan pada Banks secara illegal, jadi McGrath melakukan untuknya.
Banks mengenang hal tersebut: "Surat itu menyatakan bahwa Manchester
United mau mengontrak saya dan Matt melihat saya sebagai sosok ideal di bawah
mistar gawang hingga Dunne siap, dan ia meminta saya untuk datang ke Comfort
Club di Manchester untuk membicarakan semuanya." Sayang manajer Bolton,
Bill Riddinng, tak sudi melepas penjaga gawang andalan berusia 29 tahun itu.
Akhirnya United mengontrak Noel Cantwell yang juga menjadi kapten timnas Irlandia.
Cantwell tampil di final Piala FA 1963 mengalahkan Leicester City lewat
gol yang dilesakkan David Herd dan Denis Law. Tak seorang pun berharap
pertandingan ini berjalan mudah. Leicester punya Gordon Banks di bawah mistar
gawang yang memiliki rekor tanpa kebobolan terbaik di Divisi Satu. Mereka pun
unggul delapan poin dari United di liga setelah skuad Old Trafford nyaris
terkena degaradasi. Namun Red Devils mampu membalik keadan serta meraih trofi
pertama mereka sejak tragedi Munich.
Dan jika Bolton menyadarinya, menanti di sayap seorang pemain muda,
bersama Denis Law – yang tampil begitu dinamis saat mengalahkan Leicester –
serta Bobby Charlton, yang tengah mekar, menghasilkan sebuah sensasi lima tahun
memimpin perburuan piala suci Matt Busby, trofi Piala Champion.
George Best adalah namanya. Dia melakukan debut bersama tim utama Red
Devils pada September 1963 bersama pemain usia 17 tahun lainnya, David Sadler
(kelak ia menjadi pemain dengan rekor lebih dari 400 pertandingan bagi United
di liga dan turnamen).
Sebelum Natal George melakukan debut internasional bagi timnas Irlandia
Utara, dan dalam musim pertamanya, United berada di peringkat kedua liga untuk
pertama kalinya sejak 1959 dan siap menjadi juara di musim berikutnya. Best
datang ke Inggris dan mencoba peruntungan sebagai pesepakbola, dan menjadi
salah satu magnet di Old Trafford. Selain ingin bermain bagi Manchester United,
ia mau berada dalam satu tim dengan idolanya, Denis Law.
Denis dan George merupakan pemain hebat, pesepakbola kelas dunia di eranya,
tapi keduanya memiliki sikap yang benar-benar berbeda. Law adalah seorang
pemain bola sejati, dan tak ada yang bisa menghalangi jalan kariernya.
Sementara George muncul ketika sepakbola menjadi showbiz sekaligus olahraga.
Anda suka melihat foto-foto George di majalah atau suratkabar tengan didampingi
seorang bintang film atau model berada di sebuah nightclub atau berpose bagi
iklan televise, dan tentunya sebagai pemain Manchester United. Jangan salah,
kegairahan George pada sepakbola…tapi dia juga punya kegairahan pada banyak hal
lain, dan kecaeman wanita adalah salah satunya.
Tanggal 6 Februari 1958 merupakan hari terjadinya kecelakaan pesawat yang
ditumpangi para pemain serta ofisial Manchester United. Pesawat yang mereka
tumpangi jatuh setelah mencoba lepas landas di bandara kota Munchen. Akibat
peristiwa tersebut ada delapan pemain serta tiga ofisial tim United yang tewas.
Setelah delapan berselang dari tragedi tersebut, United dibawah
kepemimpinan Sir Matt mampu bangkit dan berprestasi. Kini tinggal Bill Foulkes
dan Bobby Charlton yang tersisa dari skuad lama yang selamat dari insiden di
Munchen tersebut. Namun bersama mereka muncul para pemain patriot United.
Nobby Stiles mengingat, dulu di era 1960-an tatkala tiap kali United
kalah maka muncul kritik yang menyatakan hal itu terjadi karena skuad Sir Matt
tak punya metode, dan kemenangan yang diraih tim seperti Liverpool serta
Leicester berkat kerjasama dan perencanaan mereka nan superior.
Ada pandangan saat itu, United tak bisa mengangkat nama besar mereka
sebab Red Devils tidak punya rencana taktik memanfaatkan talenta pemain seperti
Denis Law, George Best, serta Bobby Charlton.
"Melihat kembali pertandingan Eropa saya yang pertama di pertengahan
60-an, saya mampu mengingat semua persiapannya. Di Eropa secara umum kami
menggunakan satu sistem yakni bermain bertahan di 20 menit pertama, lalu
setelah itu kami bermain lebih menyerang."
"John Connelly dan Best merupakan penentu kemenangan kami dengan
sistem ini. John mencetak beberapa gol indah, khususnya di kompetisi Divisi
Satu, 1966/67, yang memberikan kami kesempatan melaju ke level Eropa di tahun
1968 dan memenangi Piala Champion. Tak ada tim punya persiapan bertanding lebih
baik dari United, dan kami membuktikannya dengan mengalahkan Benfica di final
Piala Champion 1968 di Wembley," ungkap Stiles berapi-api.
Sederhana saja, Sir Matt dan Jimmy Murphy secara cermat membuat rencana
permainan yang mengadaptasi talenta para pemain mereka menghadapi kekuatan
serta kelemahan lawan. Mereka berdua tak punya sertifikat melatih – demikian
pula Bill Shankly, ayah dari tim Liverpool – tapi mereka fantastis memunculkan
kemampuan esensial seorang pelatih: mengeluarkan kepiawaian para pemain mereka.
Selepas insiden di Munchen, Matt memboyong Albert Quixall (dengan rekor
transfer sebesar 45 ribu pound dari Sheffield Wednesday). Albert turut ambil
bagian dalam kebangkitan United ketika memenangi Piala FA 1963; namun dia
mengakhiri kariernya di Old Trafford tatkala Matt Busby merasakan buah dari
sukses juara liga 1964/65. United menyingkirkan Leeds United lewat selisih gol.
"Saya tak pernah bisa lupakan malam emosional di akhir April saat
United berkejaran dengan Leeds untuk mencapai finis. Kami memenangi gelar juara
liga setelah menundukkan Arsenal. Emosi saya bercampur aduk dengan kegembiraan
50 ribu penonton di Old Trafford yang menerobos ke dalam lapangan, bernyanyi,
menari, dan berteriak: "We are the champs!"
Sir Matt tak lupa menyampaikan pidato singkat selepas prestasi direngkuh
skuadnya tersebut. Ungkapan yang sama kembali terungkap tatkala Red Devils
mengalahkan Benfica tiga tahun kemudian.
"Membangun kembali tim setelah tragedi Munchen adalah tugas yang
membutuhkan keyakinan dan kesabaran luar biasa. Kami sudah kehilangan delapan
pemain brilian, terenggut di masa jayanya, dan menggantikan mereka bukan
perkara mudah. Tapi secara perlahan Manchester United mulai bangkit lagi."
"Ada beberapa talenta bagus dalam pembibitan di Old Trafford. Kini
kami mampu menampilan sebelas pemain level internasional; tapi dengan
pengecualian pada Alex Stepney dan Pat Crerand, para pemain kami kebanyakan
adalah produk sendiri yang secara membanggakan telah meraih sukses," sebut
Sir Matt.
MENJAWAB KRITIKAN
Perjuangan membawa Manchester United kembali ke level top bukan lintasan
mulus bagi Matt Busby. Ia terpaksa memikul kritikan bahwa dirinya sudah habis,
dia tak mampu mengontrol disiplin skuadnya. Law memiliki catatan buruk dalam
kehidupan di luar lapangan, Nobby Stiles secara konstan jadi headline
suratkabar dan majalah, sedangkan George Best hidup dalam glamour dan minim
kedisiplinan sebagai atlet.
Namun jawaban telah diberikan atas kritikan yang ditujukan pada Sir Matt.
Sukses di Piala Champion 1968 telah diprediksi dua tahun sebelumnya lewat
sebuah penampilan luar biasa di Lisbon , Red Devils menghadapi tim Benfica yang
belum terkalahkan di kandang. Nyatanya, United menang telak 5-1 atas tuan rumah
dalam babak perempatfinal Piala Champion 1966.
Best dipuji sebagai pemain berkelas dunia setelah mencetak gol pembuka di
menit keenam dan melesakkan gol kedua sebelum John Connelly, Pat Crerand, serta
Bobby Charlton menggenapi kemenangan Red Devils. Dan masih ada lebih dari dua
pertandingan di liga domestik, memuncak dalam kekalahan Liverpool, Arsenal,
Spurs, plus Chelsea yang berlomba menjadi klub Inggris pertama yang dimahkotai
gelar juara Eropa.
Sementara itu, ada pria
Skotlandia lainnya, Jock Stein, yang lebih dulu mengalahkan Matt Busby dengan
ambisinya, memenangi trofi Piala Champion bersama skuad Glasgow Celtic. Tim
highlanders, bermaterikan pemain asli Glasgow, mengalahkan Internazionale
Milano (juara Piala Champion dua kali dalam tiga tahun) 2-1 lewat pertandingan
nan seru dan menarik.
Akhirnya, 12 bulan
kemudian di Wembley, giliran Manchester United. Namun beberapa minggu
sebelumnya, Matt nyaris putus saat skuadnya ditaklukkan Real Madrid 0-1 di Old
Trafford. Syukur dalam semifinal leg kedua di Santiago Bernabeu, Red Devils
membalik keadaan dan menang 3-1 atas Los Blancos. United melaju ke final dan
bertemu dengan raksasa Portugal, Benfica.
Di final, Law belum
pulih dari cedera untuk tampil menghadapi Benfica di Stadion Wembley; tapi Best
dan pemain berumur 19 tahun, Brian Kidd, jadi pahlawan dalam pertandingan
tersebut. Tak ada pembalasan yang bisa dilakukan bintang Portugal, Eusebio,
karena dijaga ketat Nobby Stiles hingga sulit mendapatkan bola.
United menang dalam
perpanjangan waktu. George Best memahkotai kemenangan United dengan gol
keduanya. Dia menggocek bola dalam kotak penalti lawan melewati bek serta kiper
Benfica sebelum menendang bola ke gawang sekaligus menutup kemenangan 4-1.
Setelah sukses United di
Eropa, Sir Matt memutuskan mundur sebagai manajer untuk meraih posisi teras
sebagai general manager Manchester United. Saat Januari 1969 Sir Matt Busby
mengeluarkan pernyataan: "Manchester United tak lagi sekadar sebuah klub.
United adalah sebuah institusi. Saya telah menginformasikan pada dewan bahwa
saya melepas posisi sebagai manajer tim di akhir musim."
Pengunduran diri Sir
Matt Busby mendapat beragam reaksi. Umumnya, bernada positif dan mengagumi
prestasi yang telah direngkuh Sir Matt. Ian Greaves, mantan bek United,
melambungkan rasa hormat dan kagum pada Sir Matt sepanjang kariernya sebagai
pemain atau manajer.
"Saya menemui dan
berbicara lama dengannya saat saya mendapat tugas pertama sebagai manajer di
Huddersfield. Ia menyediakan waktu bagi saya. Ada semacam pesona pada dirinya
sebagai seorang manajer dan laki-laki. Pesona tetap ada bahkan hingga saat
kematiannya," Greaves.
Don Revie, manajer Leeds
United, yang menyajikan semangat rivalitas pada Old Trafford, bilang:
"Kami mencoba mengadaptasi model tim ala Matt pada Leeds United. Ada
banyak manajer, pemain, serta pelatih yang meminta wejangan darinya, dan ia
selalu siap memberikannya. Saya menjumpainya tatkala saya ditunjuk sebagai
manajer di Elland Road. Nasihatnya selalu positif dan membangun."
Nobby Stiles, salah satu
pemain hebat Old Trafford, berkata: "Rasanya aneh, saya hanya pernah
bermain bagi dua manajer, Sir Matt Busby dan Sir Alf Ramsey. Saya tak pernah
berpikir bahwa suatu saat ia bakal pensiun. Sir Matt lebih dari seorang bagi
saya."
Bobby Charlton pun menambahkan: "Sungguh pukulan berat
bagi pemain yang selalu bersama dengannya. Saya senang mendengar bahwa kami tak
akan kehilangan dirinya sama sekali."
Bill Shankly secara emosional mengatakan: "Jelas
rekornya tak bisa disamai. Liverpool, Spurs, dan Wolves telah menikmati mantra
kesuksesan selama lima tahun. Namun United menikmatinya selama 20 tahun dan
mungkin merupakan klub terbaik di daratan Inggris."
Pujian dan sanjungan datang dari setiap insan sepakbola,
tapi dalam konferensi pers terakhir dirinya sebagai manajer United, Sir Matt
membicara reaksi dari keluarganya. "Seperti saya, mereka merasakan semacam
kesepian. Inilah jalan hidup yang akan dijalani oleh setiap pemain, hari dimana
Anda menyadari bahwa Anda tak dapat bermain lagi. Anda cuma bisa menerima
kenyataan ini," kata Sir Matt dengan mata berkaca-kaca.
Tepat Juni 1969, Sir Matt Busby meletakkan jabatan manajer
yang telah diembannya selama 24 tahun. Sir Matt membuat keputusan dengan berat
hati. Walau begitu berkat prestasinya bersama Manchester United, publik Inggris
menempatkannya sebagai legenda sepakbola hebat yang pernah dimiliki Red Devils.
Inspirasi dan devosi yang tak pernah habis pada United
membuat Old Trafford sebagai the Theatre of Dreams. Lewat perjalanan hidup yang
bergelombang, Sir Matt memperlihatkan sisi kemanusiaan dan kesederhaannya. Dia
selalu mampu berbicara tatap muka dengan para suporter United. Sir Matt Busby
adalah bapak dari Manchester United modern. Dia membuat mimpi para suporter Red
Devils menjadi nyata.
FILE FAKTA SIR MATT BUSBY
1909 : 26 Mei, lahir di Bellshill, Lanarkshire,
Skotlandia
1928 : Bergabung di Manchester City dari Denny Hibs
FC.
1933 : Jadi finalis Piala FA bersama Manchester City
1934 : Jadi juara Piala FA bersama Manchester City
Debut bersama timnas Skotlandia melawan Liverpool
1936 : Ditransfer Liverpool
1939-45 : Menjalani wajib militer
1945 : 16 Oktober, ditunjuk sebagai manajer Manchester
United
1948 : United memenangi Piala FA
1952 : United memenangi English League Championship
1956 : United memenangi League Championship
1957 : United mempertahankan gelar juara League Championship, jadi
semifinalis Piala Champion serta runner up Piala FA
1958 : 6 Februari, mengalami kecelakaan pesawat di Munchen. Delapan
pemain Red Devils tewas, Sir Matt mendapat cedera serius.
United jadi runner up Piala FA, dan semifinalis Piala Champion.
Mendapat anugerah gelar CBA
1963 : United memenangi Piala FA
1965 : United memenangi League Championship
1966 : United mencapai babak semifinal Piala Champion
1968 : United menjadi tim Inggris pertama yang memenangi trofi Piala
Champion
Mendapat anugerah gelar Kesatria
1971 : Menjadi Direktur Manchester United
1980 : Menjadi Presiden Manchester United
1994 : 20 Januari, meninggal saat tidur











0 komentar:
Posting Komentar